Minggu, 21 Agustus 2016

Andreas Pareira : Ahok Licik Pemecah Belah Kader


IMN News, JAKARTA - Ketua DPP PDI Perjuangan Andreas H Pareira menilai, semakin jelas kelihatan seorang figur petahana, Gubernur DKI Jakarta atau Ahok dalam melihat, mencapai kekuasaan.

Menurutnya, Ahok sebenarnya memang tidak membutuhkan partai-partai politik dan konstituen parpol.
"Ahok lebih melihat parpol hanya sebagai "kuda tunggangan' nya untuk mencapai tujuan, untuk berkuasa di DKI.

Cara berpikir pak Ahok sangat pragmatis semua cara bisa digunakan. Entah itu 'Teman Ahok', entah itu parpol atau apapun alat yang digunakan. Yang penting adalah dia berkuasa," ujar Andreas, Sabtu (20/8/2016).

"Setelah berkuasa dan dirasakan tidak ada manfaatnya lagi maka dengan mudahnya Ahok akan mencampakan 'alat' yang pernah digunakan untuk meraih kekuasaan," tambahnya.

Menurutnya, terbukti dalam karir politik Ahok yang loncat dari satu parpol ke parpol yang lain. Dijelaskan, Ahok memulai karir dengan Partai Indonesia Baru (PIB) untuk jadi Bupati di Belitung.

Kemudian loncat ke Partai Golkar ketika menjadi anggota DPR-RI. Loncat lagi ke Gerindra untuk pencalonan Pilgub 2012.
"Ketika terpilih menjadi Wagub dengan mudahnya Ahok meninggalkan Gerindra.

Menjelang pilgub 2017 Ahok membentuk Tim Sukses Teman Ahok untuk melalui jalur perseorangan dan berkoar-koar sudah mengumpulkan 1 juta KTP," kata Andreas.
   
Belum sempat bereksperimen dengn jalur perseorangan, lanjut Andreas, Ahok sudak loncat lagi mencari dukungan dari parpol. Bahkan dari parpol yang pernah dengan mudah ditinggalkan pada 2012.

"Sekarang, konon dukungan dari tiga parpol, Ahok coba  mendekati PDIP yang sebenarnya setia mendukungnya selama 2012 sampai saat ini. Pola yang dipakai Ahok, mengadu domba, memecah belah antara kader dengan kader," ungkap Andreas.

" Ahok dengan licik mencoba mengadu domba antara Djarot dengan partainya PDIP. Berlindung dibalik "ceritanya' tentang dukungan dari Ketum PDIP. Ahok sedang memainkan politik memecah belah," tambahnya.

Dengan track record loyalitasnya yang buruk, political tricky nya yang sangat licin, Andreas yakin, bukan hanya PDI Perjuangan yang perlu berpikir ulang untuk mengusung Ahok.

"Namun, parpol-parpol yang sudah mendukung pun, perlu berpikir lagi untuk dukungannya pada Ahok. kalau tidak hendak menjadi korban pragmatisme Ahok," saran Andreas. (Imn - Tribn).